Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya.
Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dew berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor"
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau
bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang
istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa
yang akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa
bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat
jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja
keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara
dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang
tangannya,"Ada sesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata
apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia
bertanya secara lembut,"kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki-laki!".
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.
Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan.
Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.
Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?"
Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita."
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.
Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya
dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampaikita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra". Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam".
Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"
Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."
Sebelum kamu menceraikanku, gendonglah aku
semu
wajahku adalah topeng untuk kebahagianmu
didalamnya ada tangisan dan duka atas nama cinta
didalamnya bukan tawa dan kebahagiaan
yah kau benar...tawaku adalah semu..
tapi salahkah aku berkorban untuk kebahagiaanmu?
ANGGOTA
Evamitha Girsang
Angkatan III
Kedokteran Hewan AIRLANGGA
Angkatan V
Teknik Perkapalan ITSAngkatan V
Fisika AIRLANGGA
Angkatan V
Agrobisnis BRAWIJAYA
Ronald A. Saragih
Angkatan V
Hukum BRAWIJAYAAndar E. Girsang
Angkatan IV
Teknik Mesin ITSLaurence Malau
Angkatan IV
Informatika ITSSudianto Purba
Angkatan IV
Hukum JEMBER
Angkatan IV
Teknik Mesin ITBHerry Purba
Angkatan IV
Teknologi Pertanian BRAWIJAYAAngkatan VII
Teknik Elektro ITSAngkatan IX
Teknik Industri ITS
Angkatan X
Perencanaan Wilayah Kota ITSRio Pridy Sinaga
Angkatan X
Kedokteran Hewan AIRLANGGABoy manurung
Angkatan XI
Teknik Elektro ITSpersahabatan
persahabatan
sahabat....
kita bersahabat tanpa alasan apa-apa
karena memang seperti halnya cinta..
tak butuh alasan apa-apa
kita bersahabat..
karena aku adalah aku
kau adalah kau..
aku dengan apa yang kumiliki
dan kau dengan segala yang kau punyai...
karena.. begitulah keadaannya
persahabatan tak butuh alasan apa-apa
COZ I LOVE U SO MUCH...
Entah kenapa, dulu waktu aku kecil, saat itu kira – kira usia ku 5 tahun, ketika orang dewasa bertanya tentang cita – cita ku, dengan bangga aku akan menjawab, bukan… cita – cita ku bukan menjadi dokter, guru, atau pengacara seperti kebanyakan anak umum nya. Tapi cita – cita ku satu, aku mau ketemu pangeran kuda putih ku, dan dia yang akan membawa ku pergi ke istana lalu kami akan hidup bahagia selama nya seperti dalam dongeng yang mama bacakan sebelum tidur. Jadi, ini lah cita – cita ku, aku mau menikah dengan pangeran tampan berkuda putih.
Bahkan sampai detik ini pun aku masih bercita – cita seperti itu, tentu saja aku punya cita – cita lain…tapi yang paling utama adalah menikah dengan pangeran kuda putih ku yang tampan…hehehe
Yogyakarta, agustus 27 2008, 11 tahun kemudian
“ Sa…Cessa ! Cessaerima Cinta !”
Cewek mungil yang tertunduk di bangku kayu itu mengeliat perlahan, mata nya memerah menandakan dia baru aja bangun. Rambut nya yang kecoklatan tadi nya terikat rapi kini sedikit acak – acakan. Teman nya yang duduk di samping nya menyenggol perlahan dan berbisik melalui sudut bibirnya “ Cessa, ada Miranti ! bangun !”
Ajaib, begitu mendengar kata Bu Miranti, cewek bernama Cessa itu lansung duduk tegak. Hilang sisa – sisa ‘bangun tidur’ dari wajah putih Cessa digantikan raut yang di paksakan serius
“iya bu ?” seru nya tiba – tiba
“ bagus ya kamu tidur di pelajaran ibu, sepulang sekolah temui ibu, ada yang mau ibu bicarakan sama kamu ! jangan kabur lagi mengerti !” seru bu Miranti
Rona merah menjalar cepat dari tengkuk Cessa ke wajah nya. Beberapa anak kelihatan mati – matian menahan tawa. Sialan ! maki Cessa dalam hati teman susah malah di ketwain… teman macam apa kalin huh ! runtuk nya
“ Va ! lo kok gak bangunin gue sih ?” desis Cessa pada Shilva yang duduk di samping nya dengan raut muka merah menahan tawa
Shilva mengulum senyum nya dan berkata pelan pada Cessa “ udah gue bangunin, dasar lo nya aja yang tidur mirip kebo !”
“ sialan lo !” gumam Cessa dan buru – buru menunduk ketika dia merasakan tatapan tajam dari mata bu Miranti.
Bel pulang, yang bagi sebagian murid SMA 23 Yogyakarta itu adalah bel penyelamat, tapi tidak bagi cewek mungil yang sedang meremas – remas tangan nya gelisah ketika bel pulang berbunyi.
“ good luck ya Cess,” gurau beberapa teman sekelasnya sambil berlari keluar ketika Cessa tampak marah dan mengangkat tumpukan buku paket yang tebal nya melebihi buku harry potter and the order of phoenix itu pura – pura bersiap melempar nya kea rah teman – teman nya yang usil
“ ugh, gue sial banget sih !” bisik Cessa
“ udah jalanin aja, dateng ke ruang bu Miranti lalu dengerin aja ceramah nya selese dah !”kata Shilva sambil menyisir rambut nya, hal yang sebetul nya tidak perlu dia lakukan karena rambut hitam nya sudah rajin
“ lo sih enak ngomong doing gue yang jalanin !” gerutu Cessa sambil menarik lengan Shilva keluar kelas yang sudah kosong
“ salah lo sendiri, udah ah, jangan tarik – tarik dong, gue jadi berantakan lagi ! gue ka nada janji date ama mas Rio ku sayang…bye honey, have a nice weekend yah….” Kata Shilva sambil ngeloyor pergi
“eh, lho ? Va ! lo kok ninggalin gue sih ? sahabat macem apa lo ? tega nya dikau ! Va ! kena kutuk tau rasa lo !” teriak Cessa
Shilva berjalan menjauh sambil menggeleng kan kepala nya tak peduli
“ Shilva !” teriak Cessa
“ Sirik aja lo wek !” balas Shilva sambil menjulurkan lidah nya lalu melegang pergi
Ugh, punya temen sarap semua ! batin Cessa sambil berjalan menuju ruang guru, ruang bu Miranti tepatnya. Cessa mengetuk pintu 3 kali sebelum mengucapkan salam
“masuk !” jawab suara di balik ruangan itu
Cessa mendorong pintu nya dengan hati yang berat. Jantungnya berdetak makin kencang setiap kali dia melangkah semakin dekat ke bu Miranti
“ duduk !” kata Bu Miranti, sama seperti ketika di kelas, tegas, tak bisa di bantah
Cessa duduk di kursi hitam empuk di depan bu Miranti
“ kamu tau kenapa saya panggil kemari ?” Tanya bu miranti
Cessa menunduk “ karna saya tidur di kelas kan bu ?” jawab nya lirih
Bu Miranti menghela nafas lalu membetulkan posisi kacamata nya sebelum berbicara, dengan nada yang lebih lembut. Sontak membuat Cessa kaget
“ kamu udah kelas 3 Sa, hampir ujian, sayang kalau kamu tidak lulus ! dulu waktu kamu kelas 1 atau kelas 2 ibu masih diam saja karena memang nilai kamu bagus. Tapi kamu sadar atau tidak nilai kamu sekarang turun drastis ! padahal kamu anak IPA ! Cessa, kamu tau kan kalau kimia itu sekarang dimasukkan dalam ujian nasional ?
“kamu tau kan nilai kamu di mapel kimia tidak bagus atau harus kah ibu bilang, amat buruk ? begini, ibu punya kenalan, dia buka les di tempat nya tinggal. Tapi ibu tau kalau jarang rumah mu ke rumah dia jauh. Jadi ibu meminta dia kerumah kamu. Orang tua kamu juga sudah setuju. Nanti malam orang itu akan datang, ibu berharap banyak sama kamu Cessa, jangan lenyapkan harapan ibu !” kata Bu Miranti mengakhiri percakapan hari itu
Mata Cessa berkaca – kaca, ternyata bu Miranti perhatian banget ama gue. Padahal gue gak pernah perhatiin pelajaran nya. Bu Miranti segitu perhatian nya ama gue sampai – sampai dia nyariin guru les buat gue dan akan dateng ntar malem… Cessa menatap bu Miranti dengan kaget seolah baru tesadar dari mimpi panjang
“ orang nya ibu yang pilihin ? dan bakal dateng ntar malem ke rumah saya ?” Tanya Cessa memastikan, berharap dia salah dengar
“iya ! kenapa ? lagipula bukannya kata orang tua kamu, setiap malem minggu kamu Cuma tiduran sambil baca komik, jadi gak papa kan kalo malem minggu buat belajar ?” Tanya bu Miranti sambil tersenyum “ nah, kamu boleh pergi !” tambah nya lagi
Cessa melangkah keluar ruangan bu Miranti dengan lemas, gila, orang yang bu Miranti pilihin pasti kuno, serem, hii… malem minggu gue bakal kelabu… selamat tinggal masa remaja gue yang indah… hua Tuhan kenapa ini terjadi pada ku ? aku masih terlalu muda, belum pernah punya pacar, belum pernah ciuman…oke pernah, ama teddy bear… hueeeeeee !!!
Langit di atas Cessa perlahan menyemburatkan warna jingga saat Cessa tiba di rumah nya. Cessa berjalan perlahan memasuki kamarnya setelah mengucapkan salam pada ibunya yang sedang asyik menyirami tanaman.
Cessa merebahkan tubuh nya di kasur biru lautnya sambil menerawang, gue harus cari cara supaya malem minggu ini, gue gak terjebak ama les Kimia yang pasti bakal bikin boring itu. Ah, Shilva ! Cessa buru – buru menyambar handphone nya dan menekan beberapa tombol
“ nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…” Cessa mematikan handphone nya kesal
“ god, ampuni dosa ku... salah apa gue hhh ?” gerutu Cessa sambil menyambar haduk teddy bear pink nya dan berjalan menuju kamar mandi.
Jam mickey mouse dikamar Cessa menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit ketika terdengar ketukan dipintu rumah nya. Jantung Cessa berdetak cepat, keringat dingin menetes perlahan dari kening nya. Cessa buru – buru berlari membuka pintu rumah nya, seorang cowok berambut cepak memakai kemeja putih dan celana jeans berdiri memunggungi Cessa
“ mmm, cari siapa mas ?” Tanya Cessa pelan, bukan guru les gue… moga aja dia nyasar ! amin ! batin Cessa
Cowok itu menoleh. Cessa terpana, gila, nih cowok keren juga !
“ Cessa ?” Tanya nya sambil tersenyum ramah
Cessa mengangguk kaku, dia tau nama gue ! dia… jangan – jangan naksir gue ? jangan – jangan dia pangeran kuda putih gue… god…
“ kenalin, saya Bayu, guru les kimia kamu !” kata nya masih tersenyum
Cessa menatap shok kearah cowok bernama Bayu itu lalu tiba – tiba tertawa
“ kenapa Ssa ?” Tanya Bayu heran melihat tingkah Cessa yang aneh itu
“ gak… hhmmmphhh… gue…ah aku kira guru pilihan Bu Miranti…hmph…” Cessa berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak, wajah nya menggembung memerah
“ kamu kira saya ini berpenampilan kuno seperti guru – guru killer di sinetron – sinetron itu ? pake kacamata tebal, rambut licin, tampang angker tanpa senyum, membawa buku tebal berisi rumus yang memusingkan ?” tebak Bayu sambil tersenyum santai “ kamu terlalu banyak nonton sinetron !” dengus nya
“ hhhabis… kalo bu Miranti yang pilihin pasti…” Cessa nyengir minta maaf
“ kamu mau biarin saya masuk dan kita mulai pelajaran nya atau saya tetap berdiri disini semalaman ?” Tanya Bayu
Cessa tersenyum gugup sambil mempersilahkan Bayu masuk “ pak Bayu ?” panggil Cessa
Bayu menoleh dan tersenyum “ mas Bayu aja !” kata nya lembut
Cessa tersenyum, dia tau malam ini akan menjadi malam minggu yang indah, dan Cessa berjanji dalam hati, dia tidak akan melupakan malam ini
Yogyakarta, Desember 22 2008, 4 bulan kemudian….
Cessa memasukkan beberapa tumpukkan buku paket kedalam tas ungu nya yang menggembung over weight. Shilva menatap Cessa heran
“ Sa, lo jujur deh ama gue, lo udah punya cowok yah ? selama 4 bulan terakhir ini gue perhatiin setiap malem minggu lo pasti buru – buru pulang, prepare buat ngedate yah ?” Tanya Shilva
Cessa menarik nafas dalam – dalam “ Gak Va, gue belum punya pacar… gue pengen cerita ama lo, tapi belom… seenggak nya gak untuk saat ini
“ lo kok gitu sih ? tega nya lo gak cerita ke gue kalo lo dah punya cowok gebetan !” kata Shilva pura – pura marah
Cessa tersenyum “ gue balik duluan yah, lagian lo udah di tungguin Rio tersayang lo itu !” kata Cessa sambil melirik Rio yang nyengir di depan pintu masuk kelas Cessa
“ hai Ssa !” sapa bertubuh jangkung berwajah indo itu
“ hai Yo, jagain Shilva buat gue, awas kalo lo apa – apain !” kata Cessa pura – pura mengancam dan berlalu begitu saja tanpa memberikan Rio kesempatan menjawab
Cessa tiba di rumah nya tepat ketika jam mickey mouse nya menunjukkan pukul 5. setelah merebahkan diri sebentar, Cessa memutuskan buru – buru mandi. Hmm, prepare buat nge-date… piker Cessa geli saat tiba – tiba kata – kata Shilva terngiang. Sambil tersenyum kecil, Cessa menyambar handuk biru nya dan melangkah menuju bathtub sambil mendengarkan lagu – lagu dari iPod-nya.
Gue harus bilang ama mas Bayu kalo gue sayang ama dia ! harus ! gue rasa tuhan ngirim dia ke gue… my prince charming… god, please tell him how much I love Him. Batin Cessa sambil memainkan busa ungu beraroma lavender
“ Cessa ! Mas Bayu dateng !” seru mama nya dari bawah
“ tumben awal banget, biasa nya jam 7 baru dateng, ini kan baru jam 6 kurang dikit…” gumam Cessa sambil bangkit meraih handuk nya “ IYA MA !” Cessa balas teriak
Setelah memakai baju yang sudah dia siapkan sebelum nya, Cessa berlari menuruni anak tangga 2-2 sekaligus. Cessa melihat mas Bayu-nya sedang duduk membaca buku tebal, entah apa, dia begitu berkonsentrasi sampai – sampai hidungnya berkerut aneh
“ HOII !” seru Cessa mengagetkan mas Bayu
“ Cessa ! bikin kaget aja !” seru Mas Bayu sambil mengusap dadanya
“ hehehe … maaf !” kata Cessa sambil nyengir
“ udah duduk ! aku mau bicara serius ama kamu !” kata Mas Bayu
Cessa duduk di hadapan mas Bayu sambil berusaha menghapus sisa – sisa senyum di wajahnya
“ kamu udah hampir try out, tes semester 1 iya kan ?” Tanya Mas Bayu, Cessa mengangguk “ selama ini udah ada peningkatan nilai kimia belum ?” Tanya mas Bayu yang lagi – lagi hanya dijawab anggukan singkat oleh Cessa “syukur deh, kamu mulai besok bisa kan belajar sendiri ?” Tanya Mas Bayu
Kening Cessa berkerut “ kenapa ?”
“ yah… mas Bayu … juga mau ujian, tau kan mas Bayu juga masih kuliah. Jadi…”
“ jadi ?” sambar Cessa cepat
“ gini aja, kalo nilai semester mu bagus, ntar mas Bayu kasih hadiah deh ! gimana ?”
“ hadiah ?”
“iya, hadiah ! tapi kamu harus belajar sendiri ! deal ?” Tanya mas Bayu sambil mengacak – acak rambut Cessa
“ deal !” jawab Cessa cepat
“ bagus, nah, kamu sekarang belajar sendiri ya, aku pulang duluan…!”
“ eh ? pulang ?”
“ iya, yawda…kamu belajar yang rajin. Met malem mingguan Ssa !” kata mas Bayu sambil berdiri
Cessa menatap mas Bayu yang sedang berpamitan dengan mamanya. Entah kenapa, dia merasa tidak akan berjumpa lagi dengannya, dengan mas Bayu. Tidak, tidak untuk waktu dekat ini, tidak untuk waktu yang cukup lama.
Aku mengejar sesuatu yang tak mungkin kuraih
Aku mengejar sesuatu yang kamu sebut itu cinta
Bagaimana bisa
Kamu tidak mendengar jeritan hatiku
Jika malam – malam ku
Ku lewatkan dengan memujamu ?
Jika dalam setiap detiknya
Aku berdoa untuk mu?
Bagaimana bisa tidak kau sadari
Cinta tulusku
Bila aku selalu memimpikan mu
Merindukan mu
Persetan ungkapan cinta tak harus memiliki
Aku terluka tanpa hadir mu
Jiwa ini kosong tanpa namamu
Hanya kamu yang kupuja
Tak bisakah kamu melihatnya ?
Sudah hampir sebulan ini Cessa tidak bertemu mas Bayu, dihatinya, entah kenapa ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar apa yang orang bilang, we never know what we have until its gone….
Cessa memutuskan untuk menemui Bu Miranti dan meminta alamat mas Bayu.
Cessa mengambil nafas dalam – dalam untuk memantapkan niatnya itu
“Bu Mir, maaf bisa bicara sebentar ?” Tanya Cessa begitu menemukan sosok bu Miranti yang sedang asyik mengetik sesuatu di laptopnya
Bu Miranti mendongak dan menatap Cessa dari balik kaca mata nya.
“ bisa, duduk Ssa, ada yang bisa ibu bantu ?”
“mmm, gini bu, maaf sebelum nya..um..”
“ ya ?” Bu Miranti menantap Cessa menunggu
“Cessa mau minta alamat nya mas Bayu, udah hampir satu bulan mas Bayu gak kerumah, gak bisa di hubungi, Cessa jadi khawatir,”
“ Lho, Cessa gak tau ?” Tanya Bu Miranti kaget
“ gak, tau apa bu ?”
Bu Miranti melepas kacamata nya dan menatap Cessa dalam – dalam
“Mas Bayu kan mau ngelanjutin kuliah di Jakarta, hari ini dia berangkat, jam 12 kalo ibu gak salah inget, apa mas Bayu gak bilang ?”
Cessa mendekap mulutnya dengan kedua tangannya “gak tuh bu, mas Bayu gak bilang apa – apa ama Cessa !”
“um, makasih ya bu info nya,permisi !” kata Cessa sambil buru – buru berlari keluar
Cessa menyusuri lorong sekolahnya sambil berkali – kali melirik jam tangan nya, kuran 1 jam sebelum mas Bayu berangkat ke Jakarta. berbagai pikiran buruk terlintas di benak Cessa, juga di iringi berbagai macam pertanyaan yang Cessa gak tau jawabannya
“ Shilva ! gue harus cari dia !” seru Cessa tiba – tiba sambil menghentikan langkahnya dan berbalik menuju taman sekolah
Bener aja, cewek manis itu sedang asyik berduaan ama cowoknya ditaman sekolah seperti yang sudah Cessa duga sebelumnya
“Va, gue butuh bantuan lo, plis…anterin gue ke rumah seseorang !” kata Cessa langsung begitu sampai di hadapan Shilva
“weits, tunggu dulu, berhenti tarik nafas baru ngomong, kaya’ orang abis lihat setan aja sie lo..”
“Va, gue serius ! anterin gue kerumah seseorang !!!”
“iya, ntar deh pulang nya gue anterin !”
“sekarang !”
“ lo gila ?”
“plis… ini hidup dan mati gue ! lo ngarang apa kek, nenek lo sakit atau apa gitu ! bantuin gue keluar ya ! plis…”
“gila lo ya…”
“plis !” paksa Cessa
“oke oke !” kata Shilva akhir nya “ lo sembunyi di jok belakang mobil gue ! gue ambil surat izin !”
Cessa menatap Shilva penuh terima kasih dan akhirnya berlari mencari mobil Shilva.
Jantung Cessa terus berdetak makin kencang seiring berjalannya waktu. sampai akhirnya Shilva datang dengan senyum puas.
“ kita kemana ?” Tanya Shilva
“Udinus !”jawab Cessa yakin
“hah ?”
“udah jalan aja !”
Mobil silver Cessa melaju kencang menjauhi halaman parkir sekolah itu.
“lo mau ngapain ke Udinus ?”tanya Shilva heran “nah tuh dah kelihatan !”
“yach…cari orang !” jawab Cessa asal
Mobil Shilva berhenti dihalaman Udinus. beberapa mahasiswa berdiri dihalaman kampus itu tampak asyik membicarakan sesuatu
Cessa turun dari mobil dan nekat mendekati mahasiswi berjilbab yang sedang membaca buku tak jauh dari tempat mobil Shilva di parkirkan
“kak, mau Tanya, uh… ada anak d3 teknik informatika ga ?”Tanya Cessa
Cewek berjilbab itu menatap Cessa “ saya D3 teknik informatika, adek cari siapa ?”Tanya cewek itu ramah
“uh…kakak semester 3 bukan ?”
“iya kenapa ya ?”
“huf, syukur deh,..kakak kenal ama kak Bayu ?”Tanya Cessa
“kenal, dia kan hari ini pindah ke Jakarta !”jawab cewek berjilbab itu
“udah berangkat ?”Tanya Cessa
“udah kayanya dek, di percepat gitu, kurang tau deh, tapi yang pasti udah berangkat !”
Cessa menatap cewek itu dengan pandangan nanar
“dek gapapa ?”
“gak kak, makasih ya…” jawab Cessa sambil kembali ke mobil Shilva
Shilva yang berdiri menunggu Cessa memandang heran kearah sahabatnya yang kelihatan seperti menahan tangis
“kenapa lo …?”
“gue belum sempet bilang…gue belum bilang …”Cessa tak mampu lagi membendung air matanya
“Ssa ?”Shilva menuntun Cessa masuk kemobilnya dan membiarkan Cessa menangis di dalam
“gue belum bilang kalo gue sayang ama dia… kenapa dia pergi va ?”
“ kalo dia pergi lo kejar aja !” kata Shilva spontan
Cessa menatap sahabatnya “pinter juga lo…”
Shilva tersenyum bangga “ Shilva !”
Cessa mengahpus air matanya “Jakarta, wait for me !”
“lo mau ke Jakarta ?”
“yups..”
“ngapain ?”
“ngejar cinta gue !”jawab Cessa yakin
“hah ?”
Merindukanmu Sahabat
Sahabat ...
Kau selalu ada buatku
Saat kusedih maupun senang
Kau selalu ada di dekatku ...
Namun sekarang
Kau telah pergi dariku
Mengapa engkau pergi sahabat ??
Aku rindu denganmu ...
Detik demi detik
Jam demi jam
Hari demi hari
Namun kau tetep tak muncul ...
Sambil kudengar lagu kenangan
Untuk mengenang dirimu
Selamat jalan sahabat
Aku akan setia merindukanmu ...
Aku Cinta, Tak Ada
Aku bagai kristal terluka,
yang meneteskan bukan air mata
Retak pecah tiada kentara
sunyi sepi bunyi tak nyata
Aku bukan lagi guci utuh,
yang mampu menampung rasa yang kian bertumbuh
serupa raga yang kian melayuh. Lumpuh.
Aku cinta dia tanpa kata
Suatu yang bukan menjadi haknya
Seumpama bunga,
yang diam rindukan cahaya kala hujan tak jua reda
Aku damba cinta,
namun dia tak ada